Review: Perombakan Struktural Kota di Dunia Ketiga: Suatu Involusi Kota (T.G. McGee)
Nama :
Fazry Ramadhan
NPM :
170110150082
Kelas :
B
Mata Kuliah : Manajemen Pertumbuhan Wilayah
Dosen : Dr. (C) Tomi Setiawan
Perombakan Struktural Kota di Dunia Ketiga: Suatu Involusi Kota
(T.G. McGee)
Negara-negara
dari Dunia Ketiga merupakan negara yang memiliki sejarah kelam dengan
kolonialisme di masa lalu. Mayoritas negara Dunia Ketiga ini dapat dikatakan negara
miskin, sehingga istilah “Negara Dunia Ketiga” identik dengan negara miskin
meskipun terdapat beberapa negara dengan pertumbuhan industri baru seperti
Brazil dan China. Negara Dunia Ketiga ini berjuang untuk mencapai pembangunan
ekonomi di tengah berbagai permasalahan yang lahir di negara masing-masing,
sebut saja pengangguran dan buruknya kondisi pemukiman sebagai akibat dari
meningkatknya jumlah penduduk.
T.G. McGee
dalam karangannya yang berjudul Perombakan
Struktural dan Kota di Dunia Ketiga Suatu Teori Involusi Kota membahas
tentang kondisi ekonomi di kota-kota di berbagai negara Dunia Ketiga. McGee
beranggapan bahwa kegiatan yang bersifat revolusioner adalah sesuatu yang
langka di kota-kota besar di negara Dunia Ketiga. Sehingga pada awal karangan
ini, McGee memiliki proposisi yang menyatakan bahwa penyebab utama langkanya
kegiatan yang besifat revolusioner – atau dapat disebut sebagai perubahan
struktural – adalah kelangsungan sistem perekonomian tradisional yang padat
karya. McGee menjelaskan lebih lanjut pada sub-bab yang ada dalam karangan ini.
Sub-bab
pertama dalam karangan McGee ini membahas tentang struktur perekonomian kota di Negara Dunia Ketiga. Dalam menggambarkan
konsep ini, McGee menggunakan analisis dari Clifford Geertz mengenai suatu kota
di Pulau Jawa, Indonesia, yang namanya disamarkan menjadi Mojokuto. Lebih lanjut,
McGee memaparkan hasil analisis Geertz, yang menyatakan bahwa struktur
perekonomian Mojokuto terbagi dalam dua bagian.
Pertama ialah perekonomian firma
yang di dalamnya terdapat perniagaan dan industri yang berlangsung melalui
seperangkat pranata sosial yang impersonal sehingga terlihat terorganisir.
Kedua ialah perekonomian bazaar yang
di dalamnya terdapat sekumpulan pedagang komoditi yang kegiatannya tidak
terikat sehingga menimbulkan persaingan ketat. McGee pun menggunakan pendapat
Menjamin Higgins terkait dualisme sektor perekonomian yang menyatakan bahwa ekonomi
firma merupakan padat modal sedangkan ekonomi bazaar merupakan padat karya. Perbedaan di antara keduanya terletak
pada kuantitas kesempatan kerja yang dapat disediakan oleh kedua sektor. Dalam sektor
padat modal, kesempatan kerja dibatasi oleh adanya pembaruan yang dapat
menggantikan buruh. Sedangkan dalam sektor bazaar, kesempatan kerja terbuka
lebar karena sesuatu yang disebut oleh W.F. Wertheim sebagai kondisi pembagian kemiskinan. Model dua sektor
ini dikritik karena adanya pembagian yang telalu sederhana yang dicontohkan
sebagai terbentuknya organisasi ekonomi yang menggabungkan tipe firma dan
bazaar. Dari sini, peranan sektor tersier dianggap dapat membantu untuk
meramalkan perubahan sosial dan ekonomi di kota-kota di Negara Dunia Ketiga.
Peranan sektor
tersier – yang dibahas di sub-bab kedua – terletak pada kesempatan kerja
di sektor ini. Kesempatan kerja dalam sektor ini dianggap sebagai suatu masalah
karena dapat mengganggu stabilitas struktur perekonomian dan politik di suatu
kota. Dengan meminjam pendapat Maunder tentang tiga tipe pekerja – pekerja,
pengangguran, setengah pengangguran – McGee membandingkannya dengan sektor
ekonomi firma dan bazaar. McGee berpendapat bahwa tipe setengah pengangguran
lebih banyak terdapat di sektor bazaar, sementara tipe pengangguran lebih
banyak di sektor firma. Lebih lanjut, disebutkan bahwa pasar memiliki peranan
penting dalam sektor bazaar. Pasar ini memiliki tiga aspek: 1) arus barang dan
jasa, 2) rangkaian mekanisme perekonomian, dan 3) peran sosial budaya dari
sistem pasar tersebut. Dalam aspek pertama disebutkan bahwa jenis barang yang
ada di pasar merupakan barang-barang kecil yang mudah dipindahkan, sehingga
cenderung berputar-putar melewati sejumlah pedagang. Dalam aspek kedua
disebutkan bahwa mekanisme yang terdapat di pasar adalah tawar menawar yang
memungkinkan keterlibatan lebih banyak orang ke dalam pasar. Sementara dalam
aspek ketiga disebutkan bahwa terdapat hubungan partikularlis – sebagaimana pendapat
Geertz – di dalam pasar yang memungkinkan dapat meningkatkan jumlah pedagan
lewat hubungan tersebut.
Berdasarkan
pemahaman di atas, dapat dikatakan bahwa pasar menyerap tenaga kerja lebih
banyak. Meskipun begitu, sektor pasar memiliki kemampuan untuk berinvolusi – yaitu
tetap pada kondisinya sekarang – yang dicontohkan oleh McGee dalam sektor
pertanian di Jawa, yang meskipun jumlah pekerjanya terus bertambah, tingkat
produktivitasnya tetap marginal. McGee memaparkan empat ciri dari proses involusi: 1)
bertahannya pola dasar, 2) struktur intern yang rumit, 3) teknis yang njelimet (rumit), dan 4) akal yang tidak
terbatas.
Proporsi kesempatan
kerja dalam sektor tersier ternyata memiliki hubungan positif dengan tingkat
urbanisasi yang tinggi dan tingkat perkembangan ekonomi yang tinggi. Hal ini
karena ketika tingkat urbanisasi tinggi, kesempatan kerja di sektor tersier
akan terpusat di pusat kota. Namun perkembangan sektor tersier ini dianggap
dapat berpengaruh secara negatif terhadap stabilitas masyarakat karena dapat
menciptakan rakyat jelata. Rakyat jelata
ini adalah rakyat miskin dan mudah terpengaruh politik serta memiliki pemikiran
revolusioner sehingga memiliki potensi untuk menggulingkan pemerintah. Oleh karena
itu, banyak penulis yang berpendapat bahwa pertumbuhan sektor tersier tidak
produktif dan tidak rasional secara ekonomis.
Di samping
pendapat negatif terhadap pertumbuhan sektor tersier, terdapat pula kelompok
yang berpendapat positif. Misalnya saja pendapat yang menyatakan bahwa sektor
tersier dapat menampung pekerja yang tidak diterima di tempat lain, lalu ada pendapat
Morse yang menyatakan bahwa jumlah pekerja berlebihan belum tentu berakibat
buruk, serta pedapat dari Hirshman yang menyatakan bahwa sektor tersier diperlukan bagi
ketidakseimbangan dalam proses pertumbuhan ekonomi.
Meskipun begitu,
kedua kelompok tersebut memiliki sudut pandang yang sama, yaitu kesempatan
kerja di sektor tersier memang terbatas. Sektor ini hanya mampu untuk menyerap
sejumlah pekerja dalam satu tahap perkembangan perekonomian. Setelahnya,
pekerja tersebut menjadi pengangguran, baik setengah menganggur atau menganggur
penuh, atau memasuki sektor lain. Pandangan ini berkembang dari sudut pandang
baratsentris yang melihat bahwa sektor tersier berhubungan dengan tingkat
perkembangan ekonomi.
McGee
selanjutnya menyatakan bahwa situasi lain dapat di negara Dunia Ketiga lain. Misalnya
perubahan struktur sistem bazaar dapat terjadi apabila perubahan tersebut
dianggap dapat menguntungkan bagi sektor kapitalis. Dengan demikian, Geertz
menunjukkan bahwa perkembangan ekonomi cenderung mengambil bentuk klasik dari
Weber, di mana sekelompok pengusaha kecil yang tidak dihargai dan muncul dari
kelas pedagang tradisional berusaha memperbaiki statusnya di dalam masyarakat yang
sedang mengalami perubahan. Dengan munculnya kelompok ini, dapat dikatakan
bahwa kapitalis melakukan penetrasi di negara Dunia Ketiga. Namun karena sistem
pasar masih mendominasi di banyak kota di negara Dunia Ketiga, sehingga
penetrasi kapitalis masih belum telalu jauh. Sistem tradisional yang telah
disebutkan sebelumya ini terdiri dari suatu bazaar kota dan struktur
petani-desa yang saling menjalin. Sementara itu sektor perkotaan bahan non
pertanian ke petani dan menyerap mereka yang berpindah dari desa ke kota. Oleh karena
itu, sektor tersier di kota tergantung pada sektor pertanian di desa. Dari sini,
dapat disimpulkan bahwa: pertama
sektor jasa di perkotaan yang masih tradisional bergantung pada produksi pertanian
yang masih tradisional, dan kedua
perkembangan sistem bazaar di negara Dunia Ketiga bukan suatu proses yang
berjalan sendiri yang pada akhirnya akan bergantung pada kegiatan-kegiatan dan
kebijakan-kebijakan sektor kapitalis.
Apa yang
terjadi apabila kapitalis berusaha menerobos seluruh perekonomian suatu negara? Diberikan contoh
dari Kuba dan beberapa negara lain dari Amerika Latin, di mana kapitalisme telah tersebar secara menyeluruh sehingga perekonomian pasar dikuasasi oleh komersialisasi dan struktur pertanian tradisional menjadi runtuh akibat para petani yang merasa tidak puas karena telah diambil hak-haknya terpaksa pergi ke kota untuk memasuki subsistem bazaar. Dari contoh tersebut dapat
disimpulkan bahwa apabila sistem perekonomian diterobos dan diganti dengan sistem
produksi yang lain – dalam hal ini sistem kapitalis – bazaar perkotaan akan
menjadi lemah dan memiliki kemungkinan untuk hancur karena terinvolusi dari
dalam.
Dari penjelasan-penjelasan
sebelumnya, dapat ditarik suatu kesimpulan guna menjawab permasalahan yang
telah disinggung pada awal bahasan, yaitu tentang mengapa perubahan struktural
adalah sesuatu yang langka di negara Dunia Ketiga. Kesimpulan tersebut yaitu
adanya resistensi kota terhadap penetrasi kapitalis ke dalam sistem tradisional
yang dianut kota sehingga tidak memungkinkan adanya perubahan struktural kota,
atau setidaknya menunda perubahan struktural lebih lama selama kota masih memegang
teguh sistem tradisionalnya, sehingga dapat dikatakan bahwa sistem tradisional
merupakan faktor penghambat dalam perubahan struktural kota. Hasil penetrasi
ini memiliki efek yang heterogen karena negara Dunia Ketiga bukanlah suatu kesatuan
yang bersifat homogen.
Komentar
Posting Komentar